Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2014

Duhai Shalihah, Kamu Menggemaskan :))))

Ukhti shalihah,jika harus berbicara tentangmu, sayang, apa yang yang harus kukatakan? Pakaianmu yang rapi, rok panjang, jilbab lebar berkibar-kibar. Ah, kamu imut sekali, kawan. Melihatmu, yang kusebut berpenampilan "bidadari surga banget". Kurang manis apa coba? Tapi, aku minta maaf, atas tawaku padamu, atas canda yang aku lemparkan. Sungguh, itu bukan bermaksud meledek. Kau pasti tahu itu. Aku hanya peduli dan perhatian, lalu mengomentarimu. Daripada orang lain yang tidak kaukenal yang berkomentar? Ah, aku membayangkan salah tingkahmu yang menggemaskan ketika aku menegurmu. Sayang, ah, kamu ini imut sekali. Kalem dan pemalu. Lucunya, ya, lucunya, aku melihat sesuatu dalam dirimu. Sesuatu yang lain. Ah, kamu bisa membalik masker dan slayermu. Tapi apa yang kautulis di media sosial, aku hanya bisa tersenyum lebar, nyaris tertawa. Sayang, kamu ini di kampus jadi anak lembaga dakwah, tapi kamu jauh lebih jago bicara politik daripada aku, lebih keras menyimak pilpres darip

Kubiarkan Kau Membacaku

Kubiarkan kau membacaku, jika memang kau bisa melakukannya. Ya, aku membiarkan dirimu membacaku, padahal aku benci dibaca. Tapi aku malah mempersilahkan, bahkan berusaha memendarkan perasaan, aku minta dibaca. Kubiarkan kau membacaku, atau mungkin, aku justru minta dibaca olehmu. Bukan karena suatu alasan yang cukup penting. Bukan karena ada satu pesan yang harus sampai, tapi aku tak bisa menympaikannya. Kupikir ini buah dari keputusasaan, kekecewaanku karena gagal total membacamu. Tidak mampu membaca apapun darimu. Kubiarkan kau membacaku, sebagaimana kubiarkan cinta ini berpendar. Sebagaimana kupersilahkan rindu ini meluap-luap. Tak tertampung. Tak lagi terbendung. Bahkan mungkin, kebersamaan pun tak sanggup meghapusnya. Ia tetap tertanam begitu dalam. Kubiarkan kau membacaku, bahkan aku minta dibaca. Bacalah aku, kumohon. Karena aku sama sekali gagal membacamu. Bacalah aku, jika kau mau. Aku minta dibaca. Tidakkah kau merasakannya? Tidakkah kau membacanya? Terinspirasi dari

Kisah Cinta Ayah dan Ibu

Aku tidak pernah tahu, seperti apa romantis itu. Ah, tentu saja karena aku terlalu muda. Terlalu kecil untuk tahu dan mengenal apa itu cinta. Yang aku tahu, cinta adalah apa yang dialami ayah dan ibu. Kalau menurut teorinya Stenberg, triangle of love, love = intimacy + passion + comitment. Lalu, apa bentuk konketnya? Seperti apa yang bisa disebut cinta? Apakah ia adalah tebaran kata-kata manis yang tertabur begitu saja seperti dalam cerita? Ataukah ia peluk cium yang bisa dilakukan kapan saja di mana saja sepeti yang terlukis dalam layar kaca? Tapi yang aku tahu, cinta jauh lebih sederhana daripada itu. Cinta itu, ketika ayah menjadikan dirinya tempat ibu bersandar, dan matanya basah mengetahui fisik ibu sedang tidak fit. Cinta itu, saat ibu memeluk ayah dan mengucapkan terima kasih. Cinta itu, ketika ayah dan ibu pergi berdua berboncengan, membeli buku "Sakinah Bersamamu". Mungkin cinta itu seperti kisah di dalam buku itu. Cinta adalah jawaban atas pertanyaan seorang p