Langsung ke konten utama

Kamu.. Iya Kamu..

Sungguh, pada pilpres kemarin, aku sudah gelap mata. Aku akan dukung siapapun, yang membiarkan warganya menjalankan kewajiban agama. Terutama, jilbab polwan. Karena kau tahu, membayangkanmu terpisah dengan jilbabmu aku sungguh tak sanggup. Apakah aku tak cukup mengenalmu?

Meski aku ibadah berantakan, jilbab tak dilebarkan, berbeda denganmu, aku tak akan pernah mau, hidup tanpa jilbab ini. Tidak akan pernah ada Arina Dina Hanifa tidak berjilbab, tidak akan pernah! Jilbabku dan aku adalah satu, tak akan aku pergi tanpa ia membersamai. Kalau aku saja begitu, bagaimana perasaanmu yang harus berpisah dengan identitasmu, ibadahmu, penjagamu, tentu sangat tidak nyaman.

Tahukah dirimu, kalau aku tidak punya gambaran sama sekali seperti apa dirimu dengan rok pendek dan rambut tergerai. Aku kagum dan salut atas keberanianmu, bercita-cita untuk berkontribusi unuk Indonesia dengan cara yang menurutku keren. Aku yakin, presiden baru kita akan memerdekakan rakyatnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makna Angka 100

Di usia blog yang sudah 100 post ini, mungkin bisa terbilang bagus lah. Memasuki bulan ke-10, post ke-100, dengan 795 pengunjung. Termasuk bagus untuk ukuran orang seperti saya :) Buat banyak orang, 100 melambangkan kesempurnaan. Melambangkan kepenuhan, kepadatan, kepastian, kecukupan. Buat pelajar, 100 adalah nilai maksimal yang sempurna tanpa cela sedikit pun. Dalam prosentase, 100% menunjukkan sepenuhnya, kepastian, keseluruhan. Tapi bagi blogger, 100 postingan bukan angka yang sempurna. Masih perlu banyak perbaikan dan perkembangan. Apalagi dalam keuangan. 100, terutama 100 rupiah adalah jumlah yang sangat sedikit. Walaupun untuk beberapa mata uang lain termasuk banyak. Tapi tidak ada kata puas dalam mengejar uang bukan? "Ini adalah postingan saya yang ke-100!" Sebuah titik tolak untuk mengembangkan blog ini. :| Blog ini tentunya masih berantakan sekali. :) Tadi waktu liat udah bikin 99 post jadi nemu inspirasi baru buat ngetik ini. Entah kenapa, mungkin post yang ke-100 ...

Egosentrisme dan Sudut Pengambilan Gambar

Egosentrisme adalah ketidakmampuan anak-anak yang masih berada pada tahap perkembangan sensori-motori (sekitar usia 2-6 tahun). Contohnya, anak itu belum bisa memahami kalau keempat gambar ini memiliki objek yang sama. [dari buku Santrock, Life Span Development. Teorinya Piaget] Orang dewasa yang secara teori perkembangan seharusnya sudah tidak egosentris, tentu tahu bahwa suatu realita yang sama bisa ditampilkan dengan beberapa cara yang berbeda. Saya sedang tertarik dengan foto demo. Di sini saya membantah kata-kata seorang teman yang saya sayang "yang tertarik buat ngelirik aksi cuma 'anak aksi' juga". Saya bukan anak aksi tapi saya suka pengen tau sama orang aksi. Kan kadang ada aksi yang nggak jelas pesan yang disampaikan itu apa. Bukannya aksi itu salah satu tujuannya juga meningkatkan pengetahuan dan kepedulian masyarakat tentang persoalan itu ya? Lah kalo udah teriak-teriak, bawa banyak atribut, udah ada massa aksi yang dandan juga, tapi saya yang cukup ...

Anak Abi

⁣ "Kalau menurut Iffah, tema adab pergaulan dalam Islam itu isinya apa?" tanya abi pagi itu sambil membuat tayangan presentasi. ⁣ ⁣ "Hmm... nggak boleh berprasangka, rendah hati, tolong menolong, saling menasehati," jawabku, sambil dalam pikiran mengabsen topik mainstream semacam ikhtilat, khalwat, hijab, ghaudul bashar, dll dsb yang sering ada di akun-akun dakwah. ⁣ ⁣ Aku tidak tahu apakah pertanyaan itu tes atau apa, apakah abi kecewa atau bangga mendengar jawabannya. Tapi kemudian abi menimpali, "Iya, kan? Abi kemarin dikirimi tema itu, terus abi bales kayak gitu. Malah dibales, tapi tolong ditambahi materi adab pergaulan dalam Islam ya Pak." Kami berdua tertawa. ⁣ ⁣ "Kok kita bisa sehati gini sih, Bi?" ucapku masih tertawa. ⁣ ⁣ "Abi tahu sih maksudnya materi yang diminta kayak apa," lanjut abi cengengesan. ⁣ ⁣ Emang ya, aku ini anaknya abi.