Langsung ke konten utama

Postingan

Beberapa Orang Mudah Ditebak

Beberapa orang mudah ditebak. Atau aku yang terlalu suka menbak-nebak? Berprasangka, tapi-hei, sekarang apa yang aku dapat di kelas bisa membantuku dalam menebak. Misalnya, untuk menebak dimana suatu produk yang kucari diletakkan. Untuk orang introvert sepertiku, itu akan sangat membentu. Tanpa perlu bertanya, atau melihat lama-lama. Cukup cek di tempat-tempat yang mungkin, kalau tidak ada ya berarti kosong. Atau untuk mencari dimana suatu fasilitas ditempatkan. Tapi bukan itu ceritanya. Beberapa orang mudah ditebak. Tapi tampaknya mereka hanya membiarkanku bisa menebak. Apa yang ada dalam pesan singkat, kata-kata, atau isyarat, bisa menunjukkan apa yang akan dikatakan setelahnya. Bahkan pendapatnya tentang sesuatu, atau tebakannya atas dirimu. Beberapa orang bisa ditebak, jika kamu mengenalnya dengan cukup baik.

Aku Tak Setegar Itu

Sungguh, aku tak setegar itu. Di suatu malam, tiba-tiba aku menangis. Di depan dua orang yang tidak pernah melihatku menangis, yang hanya diam. Aku hanya bisa mengucapkan satu kalimat, “Gimana rasanya nggak dipercaya?” Konyol kalau diingat sekarang. Bukankah saat itu mereka berdua yang bercerita, mendadak meragukan kedekatan yang selama ini mereka jalin dengan orang-orang yang saat itu mendadak tak meramahi lagi. Mempertanyakan kebersamaan selama ini. Mengungkapkan rasa terluka karena senyum dan sapa dibalas palingan muka. Lalu kalimat itu keluar dari mulutku. Dan aku menangis. Mereka berdua terdiam. “Kalo nggak dipercaya, kenapa harus dipilih?” Kalimat kedua yang berhasil kuucapkan. Percakapan singkat itu lalu segera berlalu. Aku bangkit dan pamit. Mereka berdua, anak psikologi yang nyikologis banget itu, pulang, dan aku pergi setelah mengusap air mata. Saat itu, hanya kami bertiga dan Allah yang tahu. Seorang Hanifa juga bisa menangis. Aku tak setegar itu. Aku tak setegar dia ...

Jika Orang Tuamu Dulunya Mahasiswa

Jika orang tuamu dulunya mahasiswa, mungkin kamu juga mengalami apa yang kualami: Tiap harinya berdengung di telingamu suara-suara "Mana mahasiswa?" tiap kali ada hal buruk terjadi: kenaikan harga, menurunnya nilai tukar rupiah, dan kabar buruk pengisi media lainnya Berulang kali dalam sehari kamu mendengar cibiran "Ah, mahasiswa sekarang sukanya cuma cari aman" Tiap kali ada kesulitan yang kamu ceritakan, jawabannya adalah "Lho, mahasiswa harusnya bisa... bla... bla... bla..." Tiap kali ada kekurangan pihak penguasa terdengar gerutu "Gimana sih mahasiswa pada diem aja" Tapi bukan berarti kamu tidak mendengar "Lulus cepet lho!" "Nilainya A dong...!" "Habis lulus harus cepet kerja!" "IPnya harusnya 4!" Dan hal-hal lainnya diucapkan berkali-kali dalam sehari seolah-olah kamu akan lupa, seolah-olah kamu tidak pernah menginginkan ataupun mengusahakannya. Ingin kukatakan pada mereka, teririmg maaf ka...

Ah, Anda

Saya lihat Anda sangat berpotensi. Saya lihat Anda sangat pandai membawa diri. Saya lihat Anda sering terlihat di sana-sini. Saya lihat Anda lihai berbicara. Saya tertawa karena beberapa kali tebakan saya tentang Anda benar. Tawa senang sebagaimana seseorang yang tebakannya benar, bercampur kekhawatiran karena takut tebakan lainnya -yang bukan sesuatu yang baik- akan benar juga. Tapi ada satu hal pada diri Anda yang membuat saya terkejut. Beberapa hal yang membuat saya berpikir, bahwa hal yang perlu ditambah dalam diri Anda adalah kerendahan hati dan hal yang perlu dikurangi dari diri Anda adalah sikap anti kritik. Apakah itu hanya kesan, ataukah kenyataan? Saya tidak tahu. Tapi yang jelas, saya berharap Anda menyadari, tinggi hati takkan membuat Anda menang, dan menerima semua kritikan dengan lapang dada takkan membuat Anda kalah. Sudahlah. Saya toh menjadi yakin semuanya akan menjadi lebih baik kelak.

Mengenang Palapaku

Entah mengapa, saya mendadak terkenang pada palapa. Terkenang pada pemandu woles luar biasa yang tahun berikutnya jadi komdis di fakultasnya. Terkenang pada ketidakmampuannya menjawab beberapa pertanyaan kami, tapi kami sayang pada beliau luar biasa. Beliau adalah kakak kami, walaupun tidak tahu setelah itu acaranya apa dan tak bertanya pada temannya. Kami tetap menyebutnya pemandu tercinta, kami tetap menyebut kebersamaan kami kenangan seru, meski di hari-H selepas upacara kami berlari tidak jelas, sampai akhirnya masuk terlambat di ruangan dalam lelah. Tapi kami selalu bahagia mengetahui dia masih ada menunggui kami, tak peduli apa yang sedang beliau lakukan. Saya terkenang pada sebuah pagi yang indah, ketika saya melihat motor terbang, persis seperti sepeda terbang doraemon yang saya lihat di TV hari sebelumnya. Dan yang membuat hati saya terharu, terkesan, dan berjanji akan mencintai almamater ini sepenuhnya, adalah spanduk di belakangnya. Tulisan "Selamat Datang Calon Pemim...

Lembaga dan Keluarga

Ada sedikit rasa bersalah ketika saya mengetikkan kata lembaga lebih dulu daripada keluarga. Tapi lupakan saja soal itu. Ketika saya berusaha membaliknya pun, saya merasa itu menjadi judul yang kurang tepat. Saya akhir semester lalu bertanya-tanya, mengapa kita harus merasa takut kekeluargaan kita menghambat profesionalisme? Pertanyaan itu telah terjawab. Tapi, saya memiliki pertanyaan yang lain sekarang. Dan lagi-lagi, di akhir semester. Akhir semester memang selalu mengesankan dan melibatkan begitu banyak perasaan. Pertanyaan itu adalah, mengapa mengkhawatirkan kurangnya rasa kekeluargaan dalam lembaga kita? Mengapa mempererat rasa kekeluargaan harus ada di atas meningkatkan kompetensi dan kapabiliitas diri dalam kinerjanya di lembaga? Mungkin saya terlalu tak berperasaan, hingga berpikir bahwa profesionalitas di atas kekeluargaan. Tapi, apakah itu sepenuhnya salah? Bukankah ketika kita bergabung di lembaga, kita dari awal sudah tahu, ini bukan lembaga yang akan memberi keakraban...