Langsung ke konten utama

Pemuda Bermoral Cinta Indonesia

Maaf atas judul yang terlalu berapi-api saudara. Saya menemukan fakta yang luar biadap saudara-saudara! Saya melihat sebuah foto di sebuah jejaring sosial. Awalnya saya tidak begitu mengerti itu foto apa. Namun setelah membaca keterangannya, sungguh menakjubkan. Foto tersebut bersumber dari sebuah fanspage suatu komunitas atau organisasi yang berlokasi di ibukota. Uh, betapa menggemaskannya! Ini dia fotonya. Bukannya bermaksud ngiklan lho. :D




Ya, pasti sebagian besar orang belum paham. Saya juga. Lihat fotonya biasa saja, tapi setelah membaca keterangan yang diberikan si pemilik foto saya langsung tersentak kaget. Ini dia keterangannya:

Tadi siang waktu mampir ke minimarket ****maret, ada ginian nampang pas banget di depan pintu masuk.

Dan gilanya, ane liatin banyak banget yang beli. Anak-anak muda ketawa ketiwi gitu dah. Parah...

Udah kacau, zina udah jadi kaya hal lumrah. Bahkan difasilitasi secara terang-terangan.

*yang belum 'ngeh', ini paket kado valentine coklat+kondom


Itu sekitar dua jam yang lalu. Yah, mohon maaf bagi yang sudah saya ambil tanpa izin gambar dan kalimatnya.  

Mari cintai Indonesia: budayanya, kesopanannya, kesantunannya, keluhuran budinya, dan keterhormatannya. Indonesia akan terhormat karena budaya, sopan santun, dan luhur  budi pekertinya. Yuk jadi pemuda bermoral demi kemajuan negara kita. 

Salam hormat untuk orang-orang terhormat. Yang santun perilakunya, luhur budi pekertinya, rendah hati sifatnya, bermanfaat hidupnya, jujur ucapannya, benar harinya, lurus langkahnya. Saya sangat menghormati orang-orang yang terhormat, yaitu orang-orang yang menghormati. Menghormati akal dan hatinya. 

Setiap orang pasti tahu mana yang benar dan mana yang salah jika mau melihat ke akalnya dan membaca dari hatinya. :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makna Angka 100

Di usia blog yang sudah 100 post ini, mungkin bisa terbilang bagus lah. Memasuki bulan ke-10, post ke-100, dengan 795 pengunjung. Termasuk bagus untuk ukuran orang seperti saya :) Buat banyak orang, 100 melambangkan kesempurnaan. Melambangkan kepenuhan, kepadatan, kepastian, kecukupan. Buat pelajar, 100 adalah nilai maksimal yang sempurna tanpa cela sedikit pun. Dalam prosentase, 100% menunjukkan sepenuhnya, kepastian, keseluruhan. Tapi bagi blogger, 100 postingan bukan angka yang sempurna. Masih perlu banyak perbaikan dan perkembangan. Apalagi dalam keuangan. 100, terutama 100 rupiah adalah jumlah yang sangat sedikit. Walaupun untuk beberapa mata uang lain termasuk banyak. Tapi tidak ada kata puas dalam mengejar uang bukan? "Ini adalah postingan saya yang ke-100!" Sebuah titik tolak untuk mengembangkan blog ini. :| Blog ini tentunya masih berantakan sekali. :) Tadi waktu liat udah bikin 99 post jadi nemu inspirasi baru buat ngetik ini. Entah kenapa, mungkin post yang ke-100 ...

Egosentrisme dan Sudut Pengambilan Gambar

Egosentrisme adalah ketidakmampuan anak-anak yang masih berada pada tahap perkembangan sensori-motori (sekitar usia 2-6 tahun). Contohnya, anak itu belum bisa memahami kalau keempat gambar ini memiliki objek yang sama. [dari buku Santrock, Life Span Development. Teorinya Piaget] Orang dewasa yang secara teori perkembangan seharusnya sudah tidak egosentris, tentu tahu bahwa suatu realita yang sama bisa ditampilkan dengan beberapa cara yang berbeda. Saya sedang tertarik dengan foto demo. Di sini saya membantah kata-kata seorang teman yang saya sayang "yang tertarik buat ngelirik aksi cuma 'anak aksi' juga". Saya bukan anak aksi tapi saya suka pengen tau sama orang aksi. Kan kadang ada aksi yang nggak jelas pesan yang disampaikan itu apa. Bukannya aksi itu salah satu tujuannya juga meningkatkan pengetahuan dan kepedulian masyarakat tentang persoalan itu ya? Lah kalo udah teriak-teriak, bawa banyak atribut, udah ada massa aksi yang dandan juga, tapi saya yang cukup ...

Anak Abi

⁣ "Kalau menurut Iffah, tema adab pergaulan dalam Islam itu isinya apa?" tanya abi pagi itu sambil membuat tayangan presentasi. ⁣ ⁣ "Hmm... nggak boleh berprasangka, rendah hati, tolong menolong, saling menasehati," jawabku, sambil dalam pikiran mengabsen topik mainstream semacam ikhtilat, khalwat, hijab, ghaudul bashar, dll dsb yang sering ada di akun-akun dakwah. ⁣ ⁣ Aku tidak tahu apakah pertanyaan itu tes atau apa, apakah abi kecewa atau bangga mendengar jawabannya. Tapi kemudian abi menimpali, "Iya, kan? Abi kemarin dikirimi tema itu, terus abi bales kayak gitu. Malah dibales, tapi tolong ditambahi materi adab pergaulan dalam Islam ya Pak." Kami berdua tertawa. ⁣ ⁣ "Kok kita bisa sehati gini sih, Bi?" ucapku masih tertawa. ⁣ ⁣ "Abi tahu sih maksudnya materi yang diminta kayak apa," lanjut abi cengengesan. ⁣ ⁣ Emang ya, aku ini anaknya abi.