Langsung ke konten utama

Postingan

Jika Orang Tuamu Dulunya Mahasiswa

Jika orang tuamu dulunya mahasiswa, mungkin kamu juga mengalami apa yang kualami: Tiap harinya berdengung di telingamu suara-suara "Mana mahasiswa?" tiap kali ada hal buruk terjadi: kenaikan harga, menurunnya nilai tukar rupiah, dan kabar buruk pengisi media lainnya Berulang kali dalam sehari kamu mendengar cibiran "Ah, mahasiswa sekarang sukanya cuma cari aman" Tiap kali ada kesulitan yang kamu ceritakan, jawabannya adalah "Lho, mahasiswa harusnya bisa... bla... bla... bla..." Tiap kali ada kekurangan pihak penguasa terdengar gerutu "Gimana sih mahasiswa pada diem aja" Tapi bukan berarti kamu tidak mendengar "Lulus cepet lho!" "Nilainya A dong...!" "Habis lulus harus cepet kerja!" "IPnya harusnya 4!" Dan hal-hal lainnya diucapkan berkali-kali dalam sehari seolah-olah kamu akan lupa, seolah-olah kamu tidak pernah menginginkan ataupun mengusahakannya. Ingin kukatakan pada mereka, teririmg maaf ka...

Ah, Anda

Saya lihat Anda sangat berpotensi. Saya lihat Anda sangat pandai membawa diri. Saya lihat Anda sering terlihat di sana-sini. Saya lihat Anda lihai berbicara. Saya tertawa karena beberapa kali tebakan saya tentang Anda benar. Tawa senang sebagaimana seseorang yang tebakannya benar, bercampur kekhawatiran karena takut tebakan lainnya -yang bukan sesuatu yang baik- akan benar juga. Tapi ada satu hal pada diri Anda yang membuat saya terkejut. Beberapa hal yang membuat saya berpikir, bahwa hal yang perlu ditambah dalam diri Anda adalah kerendahan hati dan hal yang perlu dikurangi dari diri Anda adalah sikap anti kritik. Apakah itu hanya kesan, ataukah kenyataan? Saya tidak tahu. Tapi yang jelas, saya berharap Anda menyadari, tinggi hati takkan membuat Anda menang, dan menerima semua kritikan dengan lapang dada takkan membuat Anda kalah. Sudahlah. Saya toh menjadi yakin semuanya akan menjadi lebih baik kelak.

Mengenang Palapaku

Entah mengapa, saya mendadak terkenang pada palapa. Terkenang pada pemandu woles luar biasa yang tahun berikutnya jadi komdis di fakultasnya. Terkenang pada ketidakmampuannya menjawab beberapa pertanyaan kami, tapi kami sayang pada beliau luar biasa. Beliau adalah kakak kami, walaupun tidak tahu setelah itu acaranya apa dan tak bertanya pada temannya. Kami tetap menyebutnya pemandu tercinta, kami tetap menyebut kebersamaan kami kenangan seru, meski di hari-H selepas upacara kami berlari tidak jelas, sampai akhirnya masuk terlambat di ruangan dalam lelah. Tapi kami selalu bahagia mengetahui dia masih ada menunggui kami, tak peduli apa yang sedang beliau lakukan. Saya terkenang pada sebuah pagi yang indah, ketika saya melihat motor terbang, persis seperti sepeda terbang doraemon yang saya lihat di TV hari sebelumnya. Dan yang membuat hati saya terharu, terkesan, dan berjanji akan mencintai almamater ini sepenuhnya, adalah spanduk di belakangnya. Tulisan "Selamat Datang Calon Pemim...

Lembaga dan Keluarga

Ada sedikit rasa bersalah ketika saya mengetikkan kata lembaga lebih dulu daripada keluarga. Tapi lupakan saja soal itu. Ketika saya berusaha membaliknya pun, saya merasa itu menjadi judul yang kurang tepat. Saya akhir semester lalu bertanya-tanya, mengapa kita harus merasa takut kekeluargaan kita menghambat profesionalisme? Pertanyaan itu telah terjawab. Tapi, saya memiliki pertanyaan yang lain sekarang. Dan lagi-lagi, di akhir semester. Akhir semester memang selalu mengesankan dan melibatkan begitu banyak perasaan. Pertanyaan itu adalah, mengapa mengkhawatirkan kurangnya rasa kekeluargaan dalam lembaga kita? Mengapa mempererat rasa kekeluargaan harus ada di atas meningkatkan kompetensi dan kapabiliitas diri dalam kinerjanya di lembaga? Mungkin saya terlalu tak berperasaan, hingga berpikir bahwa profesionalitas di atas kekeluargaan. Tapi, apakah itu sepenuhnya salah? Bukankah ketika kita bergabung di lembaga, kita dari awal sudah tahu, ini bukan lembaga yang akan memberi keakraban...

Netral

Ini bukan cerita tentang air, band, apalagi gigi motor yang belum jalan. Oke, saya sedikit geli sekarang pada kata netral. Ceritanya, saya menemukan komentar tentang jilbab polwan. Ceritanya sang komentator kontra, dengan alasan polwan harus netral. Waktu itu, pemilwa baru saja berlalu. Jadi kata netral rasanya belum hilang dari telinga. Benarkah ada posisi-posisi yang mengharuskan kita untuk netral? Menurut saya, netral adalah suatu kondisi, ketika seseorang belum memiliki informasi yang cukup tentang suatu hal. Misalnya, seseorang yang menjadi panitia pemilwa. Awalnya dia belum kenal dengan semua calonnya karena tidak ada yang sefakultas atau sekomunitas. Tapi seiring waktu berlalu akan mulai muncul kecenderungan. Oh, ini cocok jadi ini, dia tidak cocok untuk jadi itu. Si A dan si B bagus, si C dan si D bukan tipe pemimpin, si E cocoknya di bidang teknis, si F mukanya mirip mantannya, dll. Ya, kalau kita tahu, kita pasti tidak netral. Ketika kita tahu, kita bisa memiliki sikap....

Ketika Kita Tahu Justru Dari Orang Lain

Kadang, kita memiliki kedekatan dengan seseorang dalam suatu lembaga. Bukan kedekatan biologis atau sosiologis, tapi kedekatan ideologis. Hubungan darah tidak ada, jarang berkomunikasi, tapi interaksi singkatnya hanya membicarakan sesuatu yang penting. Menurut saya, itu tanda ada persaudaraan ideologis. Beda dengan orang yang sering kita temui, sering kita sapa, tapi tidak pernah mebicarakan sesuatu yang penting. Komunikasinya "I-it". Misalnya petugas keamanan, petugas bis, pedagang, dan sebagainya. Tapi suatu ketika kita mendapatkan kabar tentang orang ini. Dari orang lain. Entah kita pihak keberapa yang tahu, karena orang yang memberi tahu kita posisinya juga sama seperti kita. Rasa kurang menyenangkan itu pasti ada. Atau tentang orang yang satu lembaga dengan kita. Kemudian ada "rahasia rumah tangga" lembaga yang berhubungan dengan dirinya. Kita tidak memiliki akses terhadap informasi itu, tapi pada suatu hari seseorang di luar lembaga memberitahukannya pada ...