Langsung ke konten utama

Postingan

Lembaga dan Keluarga

Ada sedikit rasa bersalah ketika saya mengetikkan kata lembaga lebih dulu daripada keluarga. Tapi lupakan saja soal itu. Ketika saya berusaha membaliknya pun, saya merasa itu menjadi judul yang kurang tepat. Saya akhir semester lalu bertanya-tanya, mengapa kita harus merasa takut kekeluargaan kita menghambat profesionalisme? Pertanyaan itu telah terjawab. Tapi, saya memiliki pertanyaan yang lain sekarang. Dan lagi-lagi, di akhir semester. Akhir semester memang selalu mengesankan dan melibatkan begitu banyak perasaan. Pertanyaan itu adalah, mengapa mengkhawatirkan kurangnya rasa kekeluargaan dalam lembaga kita? Mengapa mempererat rasa kekeluargaan harus ada di atas meningkatkan kompetensi dan kapabiliitas diri dalam kinerjanya di lembaga? Mungkin saya terlalu tak berperasaan, hingga berpikir bahwa profesionalitas di atas kekeluargaan. Tapi, apakah itu sepenuhnya salah? Bukankah ketika kita bergabung di lembaga, kita dari awal sudah tahu, ini bukan lembaga yang akan memberi keakraban...

Netral

Ini bukan cerita tentang air, band, apalagi gigi motor yang belum jalan. Oke, saya sedikit geli sekarang pada kata netral. Ceritanya, saya menemukan komentar tentang jilbab polwan. Ceritanya sang komentator kontra, dengan alasan polwan harus netral. Waktu itu, pemilwa baru saja berlalu. Jadi kata netral rasanya belum hilang dari telinga. Benarkah ada posisi-posisi yang mengharuskan kita untuk netral? Menurut saya, netral adalah suatu kondisi, ketika seseorang belum memiliki informasi yang cukup tentang suatu hal. Misalnya, seseorang yang menjadi panitia pemilwa. Awalnya dia belum kenal dengan semua calonnya karena tidak ada yang sefakultas atau sekomunitas. Tapi seiring waktu berlalu akan mulai muncul kecenderungan. Oh, ini cocok jadi ini, dia tidak cocok untuk jadi itu. Si A dan si B bagus, si C dan si D bukan tipe pemimpin, si E cocoknya di bidang teknis, si F mukanya mirip mantannya, dll. Ya, kalau kita tahu, kita pasti tidak netral. Ketika kita tahu, kita bisa memiliki sikap....

Ketika Kita Tahu Justru Dari Orang Lain

Kadang, kita memiliki kedekatan dengan seseorang dalam suatu lembaga. Bukan kedekatan biologis atau sosiologis, tapi kedekatan ideologis. Hubungan darah tidak ada, jarang berkomunikasi, tapi interaksi singkatnya hanya membicarakan sesuatu yang penting. Menurut saya, itu tanda ada persaudaraan ideologis. Beda dengan orang yang sering kita temui, sering kita sapa, tapi tidak pernah mebicarakan sesuatu yang penting. Komunikasinya "I-it". Misalnya petugas keamanan, petugas bis, pedagang, dan sebagainya. Tapi suatu ketika kita mendapatkan kabar tentang orang ini. Dari orang lain. Entah kita pihak keberapa yang tahu, karena orang yang memberi tahu kita posisinya juga sama seperti kita. Rasa kurang menyenangkan itu pasti ada. Atau tentang orang yang satu lembaga dengan kita. Kemudian ada "rahasia rumah tangga" lembaga yang berhubungan dengan dirinya. Kita tidak memiliki akses terhadap informasi itu, tapi pada suatu hari seseorang di luar lembaga memberitahukannya pada ...

Visualisasi Wisuda

Awal-awal jadi mahasiswa, saya pernah hadir dalam suatu forum semacam diskusi. Saya lupa siapa yang bicara di depan, tapi saya masih ingat isinya. Kami, para peserta, maba-maba unyu ini, diminta untuk membuat visualisasi wisuda. Menuliskannya dalam bentuk cerita lengkap di atas kertas. Mas-mas yang saya lupa wajah dan namanya apalagi dia siapa itu berkata, "Kalian mau IPK berapa saat wisuda? Mau berapa banyak dan siapa aja yang nyambut dan berbahagia atas wisuda kalian? Kalian pasti sedih kan, kalo IPKnya 4, tapi pas wisuda yang ngasih ucapan selamat cuma orang tua? Bandingin sama yang IPKnya cuma 3,5 tapi yang nyambut, ngucapin selamat, ngajak foto bareng, dan ngasih bunga puluhan orang." Waktu itu saya gemes sama sang mahasiswa tingkat akhir (kayaknya sih, soalnya masnya mungkin udah lulus sekarang, dulu kayak masnya itu angkaan tua). Masak ya IPK 3,5 dibilang cuma. Mungkin karena beliau IPKnya di atas  3,5 banget kali ya. Sayangnya waktu itu, karena waktunya singkat,...

Dua Kosong Satu Tiga: yang Menghilang dari Peredaran Pemira

Sebelumnya, saya ingin mengucapkan selamat karena semua huru-hara duet heboh pemilwa-pemira sudah selesai di seluruh sudut UGM. Yah, setahu saya. Selanjutnya, saya ingin mengacungkan jempol puluhan kali untuk teman-teman KPRM. Teman? Iya, teman satu TPS selama duet Pemilwa-Pemira awal bulan lalu. Pertama, karena mereka sudah membuat nama Pemira tahun ini dengan begitu gantengnya: SUPREMASI, Suara Penggerak Revolusi Mahasiswa Psikologi. "Menurutku Mbak..." kata seorang teman mereka di depanku sambil tertawa "Namanya terlalu ambisius..." Ya, saya juga gemas melihat "tabrak lari" kata "suara", "penggerak", dan "revolusi" bersanding dengan frasa "Mahasiswa Psikologi". Tampaknya mereka bukan pasangan yang serasi, ya? Kedua, mereka jelas-jelas membantu kami, panitia Pemilwa yang jumlahnya pas-pasan ini. Meskipun mereka dilarang membolos oleh para kakak kelas, tapi mereka membolos secara bergantian. Bahkan ada yang ha...

Egosentrisme dan Sudut Pengambilan Gambar

Egosentrisme adalah ketidakmampuan anak-anak yang masih berada pada tahap perkembangan sensori-motori (sekitar usia 2-6 tahun). Contohnya, anak itu belum bisa memahami kalau keempat gambar ini memiliki objek yang sama. [dari buku Santrock, Life Span Development. Teorinya Piaget] Orang dewasa yang secara teori perkembangan seharusnya sudah tidak egosentris, tentu tahu bahwa suatu realita yang sama bisa ditampilkan dengan beberapa cara yang berbeda. Saya sedang tertarik dengan foto demo. Di sini saya membantah kata-kata seorang teman yang saya sayang "yang tertarik buat ngelirik aksi cuma 'anak aksi' juga". Saya bukan anak aksi tapi saya suka pengen tau sama orang aksi. Kan kadang ada aksi yang nggak jelas pesan yang disampaikan itu apa. Bukannya aksi itu salah satu tujuannya juga meningkatkan pengetahuan dan kepedulian masyarakat tentang persoalan itu ya? Lah kalo udah teriak-teriak, bawa banyak atribut, udah ada massa aksi yang dandan juga, tapi saya yang cukup ...