Langsung ke konten utama

Postingan

Antara Bersyariah dan Manusiawi: Berbanding, Bertanding, Atau Bersanding?

"NKRI Bersyariah ATAU Ruang Publik yang Manusiawi?" Begitulah Denny JA menuliskan judul artikelnya yang harus dikupas dalam lomba menulis kebangsaan. Saya sama terkejut dan bingungnya dengan Anda tatkala membaca judul yang sangat 'berani' tersebut. Apalagi dengan menggunakan huruf kapital pada kata 'atau', judul itu tidak hanya membandingkan, tapi menandingkan syariat Islam dengan kemanusiaan. Lebih 'berani'nya lagi, menjadikannya sebagai tulisan untuk diulas dalam lomba KEBANGSAAN. Seperti apa argumen yang Denny JA sajikan untuk menyatakan bahwa ajaran agama yang bervisi menyempurnakan akhlaq dan menjadi rahmat bagi semesta alam tidak manusiawi?  Anda bisa membaca artikel lengkapnya di laman Persatuan Wartawan Indonesia, halaman Facebook Denny JA, atau Anda bisa membaca ringkasannya di sini. Pada awal artikel, Denny JA menyebut nama Habib Rizieq Shihab (HRS) yang sering membawa narasi NKRI bersyariah. Namun narasi hanya sebatas narasi. HRS tidak per...

Berterimakasih Atas Kesempatan

Saya mensyukuri 22 tahun yang terlewati. Saya bersyukur lahir dari orang tua yang terbiasa sibuk. Sampai usia ini, mereka masih sehat wal afiat dan jauh lebih enerjik dari anak-anaknya. Saya bersyukur lahir menjadi anak sulung. Tempat orang tua bercerita, bertanya, dan berdiskusi. Saya bersyukur atas semua pengalaman. Pengalaman menyenangkan yang membuat berulang-ulang mengenang. Juga pengalaman tidak menyenangkan yang menjadi pelajaran. Saya mensyukuri setiap keputusan yang tidak mungkin diralat. Waktu tidak akan pernah bisa berhenti atau diulang, dan bahkan hal paling bodoh yang saya lakukan mungkin jauh lebih baik daripada terlambat menyadari kalau itu salah dan melakukannya di masa depan. Saya mensyukuri setiap kejadian. Termasuk saat bencana terjadi, gempa bumi dan erupsi gunung berapi. Saya bersyukur karena keluarga kami lebih dari baik-baik saja. Ummi dan adik memang trauma. Tapi alhamdulillah kami punya kesempatan untuk berbuat baik lebih banyak. Waktu gempa bumi terjadi, s...

Pertarungan Dalam Keluarga

Sejak SD, saya ingin sekali membuat cerita pertarungan antara dua orang yang memiliki hubungan keluarga, dan tokoh protagonisnya yang lebih muda. Mengapa? Karena itu akan sangat emosional dan bikin nyesek, membuat cerita begitu berkesan dan membekas. Berikut ini kisah-kisah pertarungan dalam keluarga yang pernah saya baca: 1. Pejuang kemerdekaan vs mata-mata belanda Saya pernah membaca cerita, salah satu dialog tokohnya menceritakan secuplik kisah yang menurut saya pantas dijadikan cerita utama. Kisah ini menceritakan seorang anak laki-laki yang merupakan pejuang kemerdekaan mendapat tugas membunuh ayahnya yang mata-mata belanda. Tugas yang logis. Tapi kejam. Dan dia dengan jujurnya mengatakan itu pada ayahnya. 2. Pengusaha belanda vs santri pejuang Kalau yang ini ada di novel Bulan Mati di Javasche Oranje-nya Afifah Afra yang legend banget itu. Di akhir, Hamzah Ikhwani bertemu ayannya, William Rijkaard. Saat semua santri dan pengajar pesantrennya sudah terbunuh pasukan belan...

Stereotype Film

1. Film Barat Kalo nggak adegan pacaran, ya bunuh-bunuhan. Tokoh utama dijamin selamat dan menang. 2. Film Korea Cowok kaya dan ganteng naksir cewek bokek tapi cantik dan baik hati. 3. Film Jepang Kalo film laga, perheronya gantian kenalan. Kalo film romantis, cowok hits suka sama cewek cupu. 4. Film Indonesia Rebutan pasangan, rebutan warisan, rebutan perusahaan yang nggak jelas kerjanya apa. 5. Film India Nari-nari, nyanyi-nyanyi, orang beda agama berantem, pendidikannya nggak humanis, polisinya suka pungli.

Setelah Melewati Waktu

Aku melakukan banyak kesalahan. Aku melewatkan banyak kesempatan. Tapi aku tidak pernah berharap satu kalipun bisa mengulang waktu. Itu dulu. Sekarang, setiap kali ada sesuatu yang kusesali atau kukesali dari diriku sendiri, aku selalu bertanya-tanya apa hikmahnya, apa maksudnya.

Dia Punya Kemewahan

Dia punya kemewahan. Jangan lihat kosnya yang murah dan sesak. Jangan lihat penampilannya yang kucel. Dia punya kemewahan. Dia punya sesuatu yang sangat mahal. Ditawar dengan harga tinggi. Dia punya kemewahan. Dia menolak tawarannya. Entah karena itu baginya salah. Atau karena ia memilih melakukan hal yang paling benar menurut prinsipnya. Dia punya kemewahan. Kemewahan anak muda. Idealisme. --------------------------------------------------------------------------------------------- Untuk semua anak muda yang memegang teguh prinsipnya.

Membaca yang Berbeda

Saya sejak SMP menjadi penikmat ketubiran kolom komentar berita. Saya ketika kelas dua selalu berdebat dengan teman di belakang saya soal berita apapun yang sedang ramai—dan saya selalu ambil pendapat berbeda dari dia, biar jadi debat. Saya suka menonton debat di TV, waktu itu tahun 2009 ada pemilu dan TV one muncul sebagai stasiun baru. Saya juga suka melihat debat di kaskus. Selain karena sifat mengesalkan saya, saya lebih suka ketika informasi dari dua pihak sekaligus. Meskipun tidak bisa curiga, saya juga tidak bisa percaya begitu saja. Makanya, saya selalu berusaha objektif saat membaca sesuatu yang menjelek-jelekkan apa yang menurut saya baik dan yang menyalah-nyalahkan apa yang menurut saya benar. Bahkan saya suka sengaja mencari tulisan seperti itu. Untuk belajar. Bukankah kritikan itu bagai polesan yang meski kasar akan membuat kita makin berkilau? Anehnya, saya jarang sekali berubah pikiran atau pendapat setiap membaca pendapat yang berlawanan dengan pendapat saya. ...