Langsung ke konten utama

Postingan

Duhai Shalihah, Kamu Menggemaskan :))))

Ukhti shalihah,jika harus berbicara tentangmu, sayang, apa yang yang harus kukatakan? Pakaianmu yang rapi, rok panjang, jilbab lebar berkibar-kibar. Ah, kamu imut sekali, kawan. Melihatmu, yang kusebut berpenampilan "bidadari surga banget". Kurang manis apa coba? Tapi, aku minta maaf, atas tawaku padamu, atas canda yang aku lemparkan. Sungguh, itu bukan bermaksud meledek. Kau pasti tahu itu. Aku hanya peduli dan perhatian, lalu mengomentarimu. Daripada orang lain yang tidak kaukenal yang berkomentar? Ah, aku membayangkan salah tingkahmu yang menggemaskan ketika aku menegurmu. Sayang, ah, kamu ini imut sekali. Kalem dan pemalu. Lucunya, ya, lucunya, aku melihat sesuatu dalam dirimu. Sesuatu yang lain. Ah, kamu bisa membalik masker dan slayermu. Tapi apa yang kautulis di media sosial, aku hanya bisa tersenyum lebar, nyaris tertawa. Sayang, kamu ini di kampus jadi anak lembaga dakwah, tapi kamu jauh lebih jago bicara politik daripada aku, lebih keras menyimak pilpres darip...

Kubiarkan Kau Membacaku

Kubiarkan kau membacaku, jika memang kau bisa melakukannya. Ya, aku membiarkan dirimu membacaku, padahal aku benci dibaca. Tapi aku malah mempersilahkan, bahkan berusaha memendarkan perasaan, aku minta dibaca. Kubiarkan kau membacaku, atau mungkin, aku justru minta dibaca olehmu. Bukan karena suatu alasan yang cukup penting. Bukan karena ada satu pesan yang harus sampai, tapi aku tak bisa menympaikannya. Kupikir ini buah dari keputusasaan, kekecewaanku karena gagal total membacamu. Tidak mampu membaca apapun darimu. Kubiarkan kau membacaku, sebagaimana kubiarkan cinta ini berpendar. Sebagaimana kupersilahkan rindu ini meluap-luap. Tak tertampung. Tak lagi terbendung. Bahkan mungkin, kebersamaan pun tak sanggup meghapusnya. Ia tetap tertanam begitu dalam. Kubiarkan kau membacaku, bahkan aku minta dibaca. Bacalah aku, kumohon. Karena aku sama sekali gagal membacamu. Bacalah aku, jika kau mau. Aku minta dibaca. Tidakkah kau merasakannya? Tidakkah kau membacanya? Terinspirasi dari...

Kisah Cinta Ayah dan Ibu

Aku tidak pernah tahu, seperti apa romantis itu. Ah, tentu saja karena aku terlalu muda. Terlalu kecil untuk tahu dan mengenal apa itu cinta. Yang aku tahu, cinta adalah apa yang dialami ayah dan ibu. Kalau menurut teorinya Stenberg, triangle of love, love = intimacy + passion + comitment. Lalu, apa bentuk konketnya? Seperti apa yang bisa disebut cinta? Apakah ia adalah tebaran kata-kata manis yang tertabur begitu saja seperti dalam cerita? Ataukah ia peluk cium yang bisa dilakukan kapan saja di mana saja sepeti yang terlukis dalam layar kaca? Tapi yang aku tahu, cinta jauh lebih sederhana daripada itu. Cinta itu, ketika ayah menjadikan dirinya tempat ibu bersandar, dan matanya basah mengetahui fisik ibu sedang tidak fit. Cinta itu, saat ibu memeluk ayah dan mengucapkan terima kasih. Cinta itu, ketika ayah dan ibu pergi berdua berboncengan, membeli buku "Sakinah Bersamamu". Mungkin cinta itu seperti kisah di dalam buku itu. Cinta adalah jawaban atas pertanyaan seorang p...

Ngopi Pertama: Tradisi Keilmuan Cendekiawan Muslim

- NIAT - >> Harta >> Qarun >> Binasa >> Ilmu >> Hamman >> Binasa >> Kekuasaan >> Fir'aun >> Binasa >> Mencari ridha Allah :) - 4 TIPS MENUNTUT ILMU - 1. Peka terhadap fasilitas-fasilitas dalam menuntut ilmu 2. Tidak merasa bertambah pandai dengan bertambahnya ilmu 3. Cukup mengerti ilmu dasar sebelum belajar ilmu cabang 4. Menurut Santrock, masa remaja adalah masanya menyatukan 4 keping kepribadian:     a. Kognisi -> pikiran     b. Afeksi -> perasaan     c. Psikomotorik -> perilaku     d. Sosial     Maka, gunakan keempatnya dalam menuntut ilmu. - PASSION - Passion itu ditemukan dalam kerja, dalam belajar. Segera kenali passion sebelum usia 23 (masa dewasa awal). ~ 3 ciri passion ~ 1. Jika dilakukan 24 jam non stop, tidak lelah. 2. Jika dicaci atau dipuji, energi tidak berubah. 3. Jika mengerjakan tanpa bayaran, mau. ~ 3 cara menemukan passi...

Ini Tentang Rumah, Rumah yang Sebenarnya

Apakah kamu benar-benar telah di rumah? Atau hanya berada di dalam bangunan? Menurutku, rumah itu, tempat aku bernaung, tempat aku berlindung, dari segala iklim dan cuaca, semua musim, seluruh suhu. Tempat mencari kehangatan ketika di luar dingin. Tempat mencari kesejukan ketika di luar panas. Tempat menemukan ketenangan ketika di luar gemuruh. Tempat menemukan keceriaan ketika di luar sepi. Itulah rumah yang sesungguhnya. Tempat kita bersandar, tergeletak, dalam lelah yang berurai air mata. Tempat beristirahat ketika payah, tempat di mana luka terobati. Tempat mengeluh, tempat mengusap peluh. Itulah rumah, rumah sebenarnya. Ketika kamu di dalamnya, kamu membuka batas dan penutup yang kamu kenakan di luar. karena semua yang ada di dalamnya adalah keluargamu. Di dalamnya kamu bermanja, "aaa, aku belum bisa, aku belum paham apa-apa..." Di dalamnya kamu merengek, "aku tidak seperti kalian semua, yang luar biasa, aku tidak yakin akan mampu..." Padahal di luarnya...

Sebuah Buku Berjudul Bukan di Negeri Dongeng

Ini buku bertahun lalu, saat aku masih SD. Buku yang sangat laris, smpai-sampai ketika itu penerbitnya sendiri pun kehabisan. Dalam waktu cepat. Buku tersebut menceritakan kisah-kisah orang-orang baik yang tidak terlalu terkenal. Mereka ada di Indonesia, bukan hanya di negeri dongeng. Mereka ada di negeri kita. Saking larisnya, bahkan saya belum pernah membacanya. Belum pernah membukanya. Dan sekarang, saya menemukan ebooknya. Selamat membaca Hanifa. Jika suatu saat nanti ada buku Bukan di Negeri Dongeng 2, semoga buku itu lebih tebal dari sebelumnya.

Prosedur Pindah TPS

Prosedurnya ada di Peraturan KPU No.3 tahun 2009, cuplikannya sebagai berikut: Pasal 3 (1) Pemilih yang berhak mengikuti pemungutan suara di TPS, adalah : a. pemilih yang terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap untuk TPS (Model A3); dan b. pemilih yang terdaftar dalam Daftar Pemilih Tambahan (Model A4). (2) Daftar pemilih tambahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas pemilih yang  telah terdaftar dalam daftar pemilih tetap di TPS asal, tetapi karena keadaan tertentu  pemilih tidak dapat menggunakan hak pilihnya untuk memilih di TPS yang telah ditetapkan. (3) Keadaan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (2), meliputi keadaan karena  menjalankan tugas pada saat pemungutan suara atau karena kondisi tidak terduga  diluar kemauan dan kemampuan yang bersangkutan, antara lain karena sakit, menjadi  tahanan, tugas pekerjaannya (pilot, pramugari, nahkoda, pekerja lepas pantai, masinis,  pemantau pemilu, pengawas pemilu, saksi pemilu, wartawan, dan p...