Langsung ke konten utama

Mengganti Hukuman Mati dan Penjara

Banyak orang yang ingin hukuman mati dihapus. Alasannya karena tidak manusiawi. Padahal, kalau jahatnya tidak keterlaluan di Indonesia tidak akan dijatuhi hukuman mati. Alasan lainnya, banyak negara yang sudah menghapus hukuman mati.

Baik, kalau hukuman mati dihapus, lalu mau diganti apa? Kalau menurut saya sih, hapus saja hukuman penjara sekalian, lalu diganti dengan yang lain. Memangnya kalau dipenjra penjahatnya jadi apa? Iya kan? Ini ide saya, yang selalu aneh.

Menurut saya sih, ganti saja hukuman-hukuman itu dengan kesempatan beramal baik. Maksudnya, kirim mereka ke daerah terpencil, terluar, tertinggal, agar mereka menjadi guru di sana. Jadi, hukuman penjara diganti dengan kesempatan mengajar. Kalau keluarga mau ikut? Boleh. Tanpa membawa apa-apa tentu saja.     Kemudian digaji negara sesuai gaji guru. Kan lumayan, mereka jadi berguna.

Untuk kejahatan yang luar biasa seperti pembunuhan, korupsi dan kawan-kawan, pemerkosaan, dan gerombolan narkoba, mereka mengajar sampai semua murid mereka pintar dan baik. Jadi, murid-muridnya semua mencapai target nilai, jujur, mandiri, rajin ibadah, penolong, giat belajar, dan santun. Gurunya baik saja belum tentu muridnya baik. Jadi murid itu menjadi indikator guru. Kalau muridnya nggak baik-baik ya seumur hidup tetap mengajar.

Nah, murid itu juga bisa menjadi indikator para terpidana yang ternyata tidak bersalah, atau orang baik yang tidak sengaja, atau sudah bertaubat sebelum dihukum. Jadi, mereka dapat segera bebas. Tentu saja, baik yang bebas cepat atau lambat akan dibersihkan namanya, karena berarti mereka sudah berubah menjadi orang baik.

Kalau mau tetap mengajar walaupun tugas negara sudah selesai, silahkan, semua harta dan keluarganya dibawa ke daerah itu.

Bagaimana jika perbuatannya merugikan orang lain, korupsi yang merugikan negara misalnya? Ya dikembalikan semuanya, kalau hartanya sudah berkembang pesat, ya diberikan semuanya, tidak hanya pokoknya.


Belajar menyusun kalimat dan berpendapat, 
Arina Dina Hanifa

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makna Angka 100

Di usia blog yang sudah 100 post ini, mungkin bisa terbilang bagus lah. Memasuki bulan ke-10, post ke-100, dengan 795 pengunjung. Termasuk bagus untuk ukuran orang seperti saya :) Buat banyak orang, 100 melambangkan kesempurnaan. Melambangkan kepenuhan, kepadatan, kepastian, kecukupan. Buat pelajar, 100 adalah nilai maksimal yang sempurna tanpa cela sedikit pun. Dalam prosentase, 100% menunjukkan sepenuhnya, kepastian, keseluruhan. Tapi bagi blogger, 100 postingan bukan angka yang sempurna. Masih perlu banyak perbaikan dan perkembangan. Apalagi dalam keuangan. 100, terutama 100 rupiah adalah jumlah yang sangat sedikit. Walaupun untuk beberapa mata uang lain termasuk banyak. Tapi tidak ada kata puas dalam mengejar uang bukan? "Ini adalah postingan saya yang ke-100!" Sebuah titik tolak untuk mengembangkan blog ini. :| Blog ini tentunya masih berantakan sekali. :) Tadi waktu liat udah bikin 99 post jadi nemu inspirasi baru buat ngetik ini. Entah kenapa, mungkin post yang ke-100 ...

Egosentrisme dan Sudut Pengambilan Gambar

Egosentrisme adalah ketidakmampuan anak-anak yang masih berada pada tahap perkembangan sensori-motori (sekitar usia 2-6 tahun). Contohnya, anak itu belum bisa memahami kalau keempat gambar ini memiliki objek yang sama. [dari buku Santrock, Life Span Development. Teorinya Piaget] Orang dewasa yang secara teori perkembangan seharusnya sudah tidak egosentris, tentu tahu bahwa suatu realita yang sama bisa ditampilkan dengan beberapa cara yang berbeda. Saya sedang tertarik dengan foto demo. Di sini saya membantah kata-kata seorang teman yang saya sayang "yang tertarik buat ngelirik aksi cuma 'anak aksi' juga". Saya bukan anak aksi tapi saya suka pengen tau sama orang aksi. Kan kadang ada aksi yang nggak jelas pesan yang disampaikan itu apa. Bukannya aksi itu salah satu tujuannya juga meningkatkan pengetahuan dan kepedulian masyarakat tentang persoalan itu ya? Lah kalo udah teriak-teriak, bawa banyak atribut, udah ada massa aksi yang dandan juga, tapi saya yang cukup ...

Tugas Kimia

Dampak Bahan Bakar Terhadap Lingkungan Dampak Terhadap Udara dan Iklim Selain menghasilkan energi, pembakaran sumber energi fosil (misalnya: minyak bumi, batu bara) juga melepaskan gas-gas, antara lain karbon dioksida (CO2), nitrogen oksida (NOx),dan sulfur dioksida (SO2) yang menyebabkan pencemaran udara (hujan asam, smog dan pemanasan global). Emisi NOx (Nitrogen oksida) adalah pelepasan gas NOx ke udara. Di udara, setengah dari konsentrasi NOx berasal dari kegiatan manusia (misalnya pembakaran bahan bakar fosil untuk pembangkit listrik dan transportasi), dan sisanya berasal dari proses alami (misalnya kegiatan mikroorganisme yang mengurai zat organik). Di udara, sebagian NOx tersebut berubah menjadi asam nitrat (HNO3) yang dapat menyebabkan terjadinya hujan asam. Emisi SO2 (Sulfur dioksida) adalah pelepasan gas SO2 ke udara yang berasal dari pembakaran bahan bakar fosil dan peleburan logam. Seperti kadar NOx di udara, setengah dari konsentrasi SO2 juga berasal dari k...