Langsung ke konten utama

Cinta Keluarga

Tidak ada cinta yang lebih sejati daripada cinta seorang ibu pada anaknya. Anaknya membuatnya kerepotan sembilan bulan, tapi dielusnya dengan sayang. Anaknya membuatnya kesakitan saat melahirkan, tapi dipeluknya dengan hangat. Anaknya membuatnya lelah harus bangun malam-malam, mengikuti polahnya siang-siang. Dengan sok kuat dan sok bisa, seorang ibu berusaha memberikan yang terbaik untuk anaknya. Dengan caranya.

Tidak ada cinta yang lebih hakiki daripada cinta seorang ayah. Selalu ingin jadi pahlawan untuk anaknya. Sok bisa dan sok kuat juga. Menyuruh begini, melarang begitu, adalah caranya menunjukkan sayang. Ayah ingin melindungi kita. Ayah ingin anaknya menjalani hidup yang lebih mudah, lebih baik, dan lebih menyenangkan daripada hidupnya.

Tidak ada cinta yang lebih murni daripada cinta seorang anak pada orang tuanya. Anak membutuhkan orang tuanya lebih daripada ia membutuhkan dokter yang mengobatinya, guru yang mengajarinya, atau hansip yang menjaga kompleknya. Orang tua lah alasan setiap anak bercita-cita. Kebanggaan orang tua lah tujuan setiap anak, yang mencarinya dengan cara yang berbeda. Anak mengagumi orang tuanya di atas semua tokoh yang menghiasi layar kaca.

Tidak ada cinta yang lebih tulus daripada cinta kakak pada adiknya. Ia ingin adiknya lebih cerdas dan lebih berhasil. Kakak selalu ingin adiknya menjadi jauh lebih membanggakan. Kakak selalu ingin menjadi orang tua kedua bagi adiknya. Melindungi, menyayangi, mengajarkan.

Tidak ada cinta yang lebih halus daripada cinta adik pada kakaknya. Kakak adalah panutannya, teman sekaligus guru baginya. Kakak selalu bisa melakukan hal-hal keren. Kakak selalu tahu hal-hal hebat. Bersama kakak selalu menyenangkan melakukan apa saja.

Bukankah keluarga memang tempat semua cinta berhulu dan bermuara?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makna Angka 100

Di usia blog yang sudah 100 post ini, mungkin bisa terbilang bagus lah. Memasuki bulan ke-10, post ke-100, dengan 795 pengunjung. Termasuk bagus untuk ukuran orang seperti saya :) Buat banyak orang, 100 melambangkan kesempurnaan. Melambangkan kepenuhan, kepadatan, kepastian, kecukupan. Buat pelajar, 100 adalah nilai maksimal yang sempurna tanpa cela sedikit pun. Dalam prosentase, 100% menunjukkan sepenuhnya, kepastian, keseluruhan. Tapi bagi blogger, 100 postingan bukan angka yang sempurna. Masih perlu banyak perbaikan dan perkembangan. Apalagi dalam keuangan. 100, terutama 100 rupiah adalah jumlah yang sangat sedikit. Walaupun untuk beberapa mata uang lain termasuk banyak. Tapi tidak ada kata puas dalam mengejar uang bukan? "Ini adalah postingan saya yang ke-100!" Sebuah titik tolak untuk mengembangkan blog ini. :| Blog ini tentunya masih berantakan sekali. :) Tadi waktu liat udah bikin 99 post jadi nemu inspirasi baru buat ngetik ini. Entah kenapa, mungkin post yang ke-100 ...

Egosentrisme dan Sudut Pengambilan Gambar

Egosentrisme adalah ketidakmampuan anak-anak yang masih berada pada tahap perkembangan sensori-motori (sekitar usia 2-6 tahun). Contohnya, anak itu belum bisa memahami kalau keempat gambar ini memiliki objek yang sama. [dari buku Santrock, Life Span Development. Teorinya Piaget] Orang dewasa yang secara teori perkembangan seharusnya sudah tidak egosentris, tentu tahu bahwa suatu realita yang sama bisa ditampilkan dengan beberapa cara yang berbeda. Saya sedang tertarik dengan foto demo. Di sini saya membantah kata-kata seorang teman yang saya sayang "yang tertarik buat ngelirik aksi cuma 'anak aksi' juga". Saya bukan anak aksi tapi saya suka pengen tau sama orang aksi. Kan kadang ada aksi yang nggak jelas pesan yang disampaikan itu apa. Bukannya aksi itu salah satu tujuannya juga meningkatkan pengetahuan dan kepedulian masyarakat tentang persoalan itu ya? Lah kalo udah teriak-teriak, bawa banyak atribut, udah ada massa aksi yang dandan juga, tapi saya yang cukup ...

Anak Abi

⁣ "Kalau menurut Iffah, tema adab pergaulan dalam Islam itu isinya apa?" tanya abi pagi itu sambil membuat tayangan presentasi. ⁣ ⁣ "Hmm... nggak boleh berprasangka, rendah hati, tolong menolong, saling menasehati," jawabku, sambil dalam pikiran mengabsen topik mainstream semacam ikhtilat, khalwat, hijab, ghaudul bashar, dll dsb yang sering ada di akun-akun dakwah. ⁣ ⁣ Aku tidak tahu apakah pertanyaan itu tes atau apa, apakah abi kecewa atau bangga mendengar jawabannya. Tapi kemudian abi menimpali, "Iya, kan? Abi kemarin dikirimi tema itu, terus abi bales kayak gitu. Malah dibales, tapi tolong ditambahi materi adab pergaulan dalam Islam ya Pak." Kami berdua tertawa. ⁣ ⁣ "Kok kita bisa sehati gini sih, Bi?" ucapku masih tertawa. ⁣ ⁣ "Abi tahu sih maksudnya materi yang diminta kayak apa," lanjut abi cengengesan. ⁣ ⁣ Emang ya, aku ini anaknya abi.