Langsung ke konten utama

Postingan

Puisi Ada yang Pernah Berkata

Ada yang pernah berkata Bukan berjuang jika enggan turun ke jalan Belum membawa nilai-nilai mahasiswa Bila tak bersedia ikut unjuk rasa Ada yang pernah berkata Tugasnya mahasiswa bukan demo Mahasiswa tidak berpolitik Mahasiswa itu seharusnya Mengkaji dan mengkritisi dengan kapasitas intelektualnya Ada yang pernah berkata Ini dan itu Begini dan begitu Ada yang pernah berkata Tapi itu bukan saya Kalau menurut pendapat saya, dari proses yang selama ini saya lalui, dan dari setiap hikmah yang saya temui di sana-sini: Mahasiswa seharusnya dapat mengenal dirinya dan dunia. Mengenal dirinya, ia paham akan kelebihan dan kekurangannya. Ia paham akan minat dan bakatnya. Ia mengenali masa lalunya, memahami keadaan yang dialaminya sekarang, dan mengerti apa yang akan dia hadapi di masa depan. Ia tahu cita-citanya. Mengenal dunia, ia menyadari apa yang dibutuhkan dunia ini. Ia tidak menunjukkan gejala schizophrenia, hidup dalam dirinya sendiri, menyusun life plan yang berderet-d...

Tentang Cinta dan Segalanya

Jika ini semua adalah tentang cinta, maka ia akan mengambil segalanya darimu. Tenagamu, pikiranmu, perasaanmu, juga kantuk yang menghiasi pelupuk matamu. Jika ini semua adalah tentang cinta, maka ia pasti meminta segala yang kau punya. Keyakinanmu, usahamu, perubahanmu, dan pengorbananmu. Karena ini semua adalah cinta, maka, bahkan jiwa pun bukan apa apa, jika memang itu yang dibutuhkan. Karena yang kita jalani, yang kita tempuh, adalah cinta. Maka kita siap menjadi otak, mata, hati, tulang punggung, tangan, dan kakinya. Karena cinta ini adalah cinta di atas cinta. Cinta yang lebih besar, lebih tinggi, lebih agung, lebih utama, lebih penting, lebih setia. Cinta yang berdasarkan pada kesetiaan sejati, kesetiaan pada janji yang telah diikrarkan sejak pertama kali. Ini cinta bukan sekadar cinta, yang setia tak sekadar setia. Maka ini juga setia di atas setia. Setia pada janji pertama, janji yang lebih dulu, sumpah yang lebih awal. “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan...

Syukuri Kilaumu

Sering menyesal, karena kurang usaha, tidak mendapatkan sebuah kesempatan belajar. Padahal, kesempatan belajar yang ada itu, begitu kondusif dan luar biasa. Meningkatkan kualitas diri. Menyesal sekali, setelah semua berlalu, dan tidak bisa diubah, sama sekali. Kemudian aku teringat sebuah kisah. Cukup menghibur, paling tidak kutangkap pesannya. Kisah ini tentang seorang muslim yang iri, pada para sahabat. "Andai aku hidup di zaman rasul. Meyaksikan mukjizatnya, belajar langsung darinya, berinteraksi dengan para sahabat. Alangkah indahnya." Lalu temannya berkata, "Saudaraku, tapi itu tidak menjamin imanmu lebih kuat." "Mengapa?" Sang kawan tersenyum. "Abu Lahab dan Abu Jahal juga hidup di zaman itu, memahami bahasa arab, bahkan masih kerabat rasulullah. Tapi mereka sama sekali tidak beriman, bahkan memusuhi rasul." "Maka saudaraku, syukuri nikmat iman dan Islam yang telah dianugerahkan kepadamu." Ya, pengalaman bukan segala...

Kamu.. Iya Kamu..

Sungguh, pada pilpres kemarin, aku sudah gelap mata. Aku akan dukung siapapun, yang membiarkan warganya menjalankan kewajiban agama. Terutama, jilbab polwan. Karena kau tahu, membayangkanmu terpisah dengan jilbabmu aku sungguh tak sanggup. Apakah aku tak cukup mengenalmu? Meski aku ibadah berantakan, jilbab tak dilebarkan, berbeda denganmu, aku tak akan pernah mau, hidup tanpa jilbab ini. Tidak akan pernah ada Arina Dina Hanifa tidak berjilbab, tidak akan pernah! Jilbabku dan aku adalah satu, tak akan aku pergi tanpa ia membersamai. Kalau aku saja begitu, bagaimana perasaanmu yang harus berpisah dengan identitasmu, ibadahmu, penjagamu, tentu sangat tidak nyaman. Tahukah dirimu, kalau aku tidak punya gambaran sama sekali seperti apa dirimu dengan rok pendek dan rambut tergerai. Aku kagum dan salut atas keberanianmu, bercita-cita untuk berkontribusi unuk Indonesia dengan cara yang menurutku keren. Aku yakin, presiden baru kita akan memerdekakan rakyatnya.

Duhai Shalihah, Kamu Menggemaskan :))))

Ukhti shalihah,jika harus berbicara tentangmu, sayang, apa yang yang harus kukatakan? Pakaianmu yang rapi, rok panjang, jilbab lebar berkibar-kibar. Ah, kamu imut sekali, kawan. Melihatmu, yang kusebut berpenampilan "bidadari surga banget". Kurang manis apa coba? Tapi, aku minta maaf, atas tawaku padamu, atas canda yang aku lemparkan. Sungguh, itu bukan bermaksud meledek. Kau pasti tahu itu. Aku hanya peduli dan perhatian, lalu mengomentarimu. Daripada orang lain yang tidak kaukenal yang berkomentar? Ah, aku membayangkan salah tingkahmu yang menggemaskan ketika aku menegurmu. Sayang, ah, kamu ini imut sekali. Kalem dan pemalu. Lucunya, ya, lucunya, aku melihat sesuatu dalam dirimu. Sesuatu yang lain. Ah, kamu bisa membalik masker dan slayermu. Tapi apa yang kautulis di media sosial, aku hanya bisa tersenyum lebar, nyaris tertawa. Sayang, kamu ini di kampus jadi anak lembaga dakwah, tapi kamu jauh lebih jago bicara politik daripada aku, lebih keras menyimak pilpres darip...

Kubiarkan Kau Membacaku

Kubiarkan kau membacaku, jika memang kau bisa melakukannya. Ya, aku membiarkan dirimu membacaku, padahal aku benci dibaca. Tapi aku malah mempersilahkan, bahkan berusaha memendarkan perasaan, aku minta dibaca. Kubiarkan kau membacaku, atau mungkin, aku justru minta dibaca olehmu. Bukan karena suatu alasan yang cukup penting. Bukan karena ada satu pesan yang harus sampai, tapi aku tak bisa menympaikannya. Kupikir ini buah dari keputusasaan, kekecewaanku karena gagal total membacamu. Tidak mampu membaca apapun darimu. Kubiarkan kau membacaku, sebagaimana kubiarkan cinta ini berpendar. Sebagaimana kupersilahkan rindu ini meluap-luap. Tak tertampung. Tak lagi terbendung. Bahkan mungkin, kebersamaan pun tak sanggup meghapusnya. Ia tetap tertanam begitu dalam. Kubiarkan kau membacaku, bahkan aku minta dibaca. Bacalah aku, kumohon. Karena aku sama sekali gagal membacamu. Bacalah aku, jika kau mau. Aku minta dibaca. Tidakkah kau merasakannya? Tidakkah kau membacanya? Terinspirasi dari...

Kisah Cinta Ayah dan Ibu

Aku tidak pernah tahu, seperti apa romantis itu. Ah, tentu saja karena aku terlalu muda. Terlalu kecil untuk tahu dan mengenal apa itu cinta. Yang aku tahu, cinta adalah apa yang dialami ayah dan ibu. Kalau menurut teorinya Stenberg, triangle of love, love = intimacy + passion + comitment. Lalu, apa bentuk konketnya? Seperti apa yang bisa disebut cinta? Apakah ia adalah tebaran kata-kata manis yang tertabur begitu saja seperti dalam cerita? Ataukah ia peluk cium yang bisa dilakukan kapan saja di mana saja sepeti yang terlukis dalam layar kaca? Tapi yang aku tahu, cinta jauh lebih sederhana daripada itu. Cinta itu, ketika ayah menjadikan dirinya tempat ibu bersandar, dan matanya basah mengetahui fisik ibu sedang tidak fit. Cinta itu, saat ibu memeluk ayah dan mengucapkan terima kasih. Cinta itu, ketika ayah dan ibu pergi berdua berboncengan, membeli buku "Sakinah Bersamamu". Mungkin cinta itu seperti kisah di dalam buku itu. Cinta adalah jawaban atas pertanyaan seorang p...