Langsung ke konten utama

Lebih Gampang Jadi Leader Daripada Learner

Lebih gampang jadi leader daripada learner. Kalo jadi leader dapet uang, kalo jadi learner malah mengeluarkan uang.

Lebih gampang jadi leader daripada learner.

Coba, kalo misalnya ada leader yang jujur. Beh, dielu-elukan semua orang. Kalo dia kenapa kenapa banyak yang bela. Leader yang nggak jujur nggak berani kalo mau menjatuhkan leader yang jujur karena ada rakyat di depannya yang akan melindungi leader yang jujur.

Tapi kalo learner yang jujur, coba bayangkan siapa yang bela? Sering kalah saing sama learner yang nggak jujur. Siapa yang bela? Gurunya aja nggak tegas, takut sama learner yang nggak jujur, pura-pura nggak tahu, malah kalo ada learner yang ketangkap basah kelihatan nggak jujur, sang penegak hukum itu sodara, tertunduk malu, sok sibuk, mengalihkan pandangan, pura-pura nggak lihat, bersikap seolah itu hal biasa, Ya Allah, berkahilah orang-orang jujur Ya Allah, semoga semua orang-orang jujur masuk surga! Lalu, siapa yang membela learner jujur itu saudara? Apakah ada? Learner lainnya? Malah semakin menjatuhkan, lho.

Jadi kesimpulannya: Learner-learner yang jujur akan menjadi leader-leader yang jujur. Ketika masih menjadi learner, dengan tantangan lebih sulit, godaan lebih besar, dan tanpa pembela saja mereka bisa bertahan, apalagi ketika menjadi leader, yang akan dibela atas kejujurannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makna Angka 100

Di usia blog yang sudah 100 post ini, mungkin bisa terbilang bagus lah. Memasuki bulan ke-10, post ke-100, dengan 795 pengunjung. Termasuk bagus untuk ukuran orang seperti saya :) Buat banyak orang, 100 melambangkan kesempurnaan. Melambangkan kepenuhan, kepadatan, kepastian, kecukupan. Buat pelajar, 100 adalah nilai maksimal yang sempurna tanpa cela sedikit pun. Dalam prosentase, 100% menunjukkan sepenuhnya, kepastian, keseluruhan. Tapi bagi blogger, 100 postingan bukan angka yang sempurna. Masih perlu banyak perbaikan dan perkembangan. Apalagi dalam keuangan. 100, terutama 100 rupiah adalah jumlah yang sangat sedikit. Walaupun untuk beberapa mata uang lain termasuk banyak. Tapi tidak ada kata puas dalam mengejar uang bukan? "Ini adalah postingan saya yang ke-100!" Sebuah titik tolak untuk mengembangkan blog ini. :| Blog ini tentunya masih berantakan sekali. :) Tadi waktu liat udah bikin 99 post jadi nemu inspirasi baru buat ngetik ini. Entah kenapa, mungkin post yang ke-100

Egosentrisme dan Sudut Pengambilan Gambar

Egosentrisme adalah ketidakmampuan anak-anak yang masih berada pada tahap perkembangan sensori-motori (sekitar usia 2-6 tahun). Contohnya, anak itu belum bisa memahami kalau keempat gambar ini memiliki objek yang sama. [dari buku Santrock, Life Span Development. Teorinya Piaget] Orang dewasa yang secara teori perkembangan seharusnya sudah tidak egosentris, tentu tahu bahwa suatu realita yang sama bisa ditampilkan dengan beberapa cara yang berbeda. Saya sedang tertarik dengan foto demo. Di sini saya membantah kata-kata seorang teman yang saya sayang "yang tertarik buat ngelirik aksi cuma 'anak aksi' juga". Saya bukan anak aksi tapi saya suka pengen tau sama orang aksi. Kan kadang ada aksi yang nggak jelas pesan yang disampaikan itu apa. Bukannya aksi itu salah satu tujuannya juga meningkatkan pengetahuan dan kepedulian masyarakat tentang persoalan itu ya? Lah kalo udah teriak-teriak, bawa banyak atribut, udah ada massa aksi yang dandan juga, tapi saya yang cukup

TRAGEDI KARTINI Sebuah Pertarungan Ideologi

ASMA KARIMAH TRAGEDI KARTINI Sebuah Pertarungan Ideologi Tinta sejarah belum lagi kering menulis namanya, namun wanita-wanita negrinya sudah terbata-bata membaca cita-citanya. Kian hari emansipasi kian mirip saja dengan liberalisasi dan feminisasi . Sementara Kartini sesungguhnya semakin meninggalkan semuanya, dan ingin kembali kepada fitrahnya. Penerbit Hanifah buku muslimah dan keluarga Daftar Pustaka : Asma Karimah, TRAGEDI KARTINI Sebuah Pertarungan Ideologi . Penerbit Hanifah, 1994 (cetakan kelima).